Didirikan pada tahun 2015, UangTeman merupakan perusahaan fintech peer-to-peer lending di Indonesia yang menyalurkan pinjaman multiguna jangka pendek, baik untuk keperluan konsumsi maupun bisnis. Misi dari UangTeman adalah menyediakan akses keuangan kepada masyarakat yang sudah memiliki rekening bank namun belum bisa mendapatkan layanan kredit dari institusi keuangan, seperti perbankan maupun perusahaan pembiayaan. Terhitung sejak tahun 2015 hingga saat ini, UangTeman telah berhasil mencairkan lebih dari Rp. 600 miliar serta memiliki lebih dari 82.000 nasabah aktif dan masih akan terus bertambah. Hal tersebut membuat UangTeman membutuhkan infrastruktur dengan performa yang cepat dan andal agar dapat terus berkembang dan menyediakan layanan yang terbaik.




“Untuk saat ini, di wilayah Jabodetabek setiap harinya menerima lebih dari 2.500 applicant. Bayangkan jika skalanya lebih luas? Tentu saja jumlah applicant juga akan terus meningkat. Dengan demand yang sebesar itu, kami membutuhkan bandwith yang besar pula," ujar Andre Pratama Adiwijaya (Acting CTO UangTeman).

Awalnya, UangTeman menggunakan arsitektur monolithic dengan jumlah puluhan VM (Virtual Machine) untuk menjalankan aplikasi dan menyimpan berbagai data, termasuk informasi dari seluruh pelanggan. Arsitektur monolithic menggabungkan berbagai komponen menjadi satu kesatuan dalam pembuatan aplikasi, yang berarti menyatukan antara front-end dan back-end dalam satu aplikasi yang sama. Hal tersebut membuat server yang dimiliki oleh uang teman sangat rigid dan berdampak pada pemanfaatan resource (CPU, RAM, dan Storage) yang dimiliki tidak efisien dan menyebabkan usage bandwidth tidak optimal. Kalau sudah begini, biaya infrastruktur yang dikeluarkan juga tidak efektif. Karena alasan ini pula, UangTeman akhirnya memutuskan untuk melakukan restrukturisasi pada infrastruktur yang digunakan.

“Ketika menggunakan asitektur ini kami menemukan kendala dalam hal pengelolaan sistem yang rumit dan tidak dapat dimonitor secara detail setiap resourcesnya. Secara tidak langsung hal ini juga berdampak pada biaya yang kami keluarkan setiap bulannya," ujar Andre Pratama Adiwijaya (Acting CTO UangTeman).

Meskipun arsitektur monolithic tergolong mudah diuji dan di deploy ke server ataupun cloud, performa dari aplikasi akan menurun jika di akses oleh banyak user dalam waktu yang bersamaan. Tidak hanya itu, performa dari sistem juga tidak dapat termonitor secara rinci dan sulit di skalakan. Ketiga poin ini tentunya menjadi permasalahan utama bagi UangTeman yang bergerak di industri fintech yang tergolong dinamis. UangTeman memerlukan infrastruktur dengan jaringan yang tidak hanya selalu tersedia, tetapi juga aman dan mudah dikembangkan agar dapat memberikan layanan yang optimal untuk seluruh pelanggannya. Oleh karena itu, UangTeman akhirnya memutuskan untuk melakukan migrasi dari arsitektur monolithic menjadi microservice agar penggunaan resource infrastruktur menjadi lebih efisien, scalable dan dapat termonitor dengan baik.


Penyedia Layanan Cloud dengan Tim yang Expert di Bidangnya


Melakukan migrasi arsitektur dari monolithic menjadi microservices merupakan proses yang cukup kompleks dan melakukan end-to-end changing. Apalagi, UangTeman telah memiliki pelanggan dalam jumlah besar yang secara langsung juga berdampak jumlah data dan informasi yang harus diarsip. Selain itu, seluruh aktivitas UangTeman juga harus memenuhi standar dari OJK, termasuk dalam hal pemilihan infrastruktur yang digunakan, seperti:

  1. Data Center yang berlokasi di Indonesia (lokal)
  2. Sertifikasi Tier III Design dan Facility
  3. Sertifikasi ISO 27001 untuk standar manajemen keamanan informasi
  4. Sertifikasi PCI DSS untuk keamanan transaksi keuangan

Dalam menjalankan transaksinya, UangTeman mempercayakan Biznet GIO sebagai penyedia infrastruktur yang andal. UangTeman memutuskan untuk melakukan transformasi infrastruktur dengan melakukan migrasi ke GIO Private menggunakan arsitektur microservices dengan OKD (Openshift Kubernetes Distribution) sebagai platform container orchestration. UangTeman membutuhkan sistem dengan infrastructure yang scaleable atau dengan kata lain dapat disesuaikan dengan demand dan perkembangan bisnis (live scaling) serta mampu menangani traffic dari aplikasi UangTeman. Aplikasi yang mudah diakses dan minim downtime menjadi aspek yang penting bagi UangTeman dan memiliki kaitan yang erat dengan faktor keamanan. Dimana kemudahan akses, kecepatan dan keamanan merupakan faktor penting yang harus dimiliki oleh UangTeman sebagai salah satu pelaku industri fintech. Selain itu, UangTeman juga membutuhkan centralized logging, monitoring cluster, CI/CD, persistent volume, serta service mesh yang merupakan layer pada infrastruktur yang dirancang khusus untuk memastikan komunikasi antar container dapat berjalan dengan cepat dan lancar.



“Sebenarnya kita sedikit uji nyali karena tidak memiliki DevOps sendiri dan agak kewalahan. Kami meminta tim Biznet GIO untuk mengeksekusi topologi yang sudah tersedia , trial error dan kebutuhan lainnya karena ini pertama kalinya kita menggunakan layanan microservices ini. Biznet Gio memberikan dukungan penuh, mulai dari konsultasi, migrasi hingga training singkat kepada tim kami disini untuk pengelolaan infrastruktur kedepannya.”

Dalam waktu 3 minggu, Cloud Expert Biznet Gio membantu UangTeman meninjau kembali pengunaan public cloud dan melakukan proses transformasi IT yang terdiri dari tahap assessment, alignment terhadap target bisnis dan memberikan rekomendasi arsitektur baru yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan infrastruktur UangTeman. Cloud Expert Biznet GIO kemudian mengimplementasikan centralized logging menggunakan Elasticsearch dengan fluentd sebagai agent di masing-masing node dan Kibana sebagai GUI. Grafana juga dipilih sebagai platform untuk melakukan monitoring pada cluster OKD dengan 7 node (3 Master dan 4 Worker) milik UangTeman. Grafana dapat memberikan informasi sebuah data matrics untuk diolah menjadi sebuah grafik ataupun data tertulis. Kemudian, untuk memaksimalkan kinerja teknologi container, Biznet Gio mengimplementasikan side car Istio diatas layer service mesh. Keunggulan dari container yang telah dilengkapi sidecar adalah setiap request yang masuk dan keluar akan terbaca oleh kubernetes dan dapat dimanfaatkan untuk:

  1. Melakukan traffic engineering yg lebih advance.
  2. Melakukan tracking dan visualisasi seluruh request dari sebuah container
  3. Melakukan A/B testing

UangTeman juga menggunakan Glusterfs pada masing-masing node worker untuk memenuhi kebutuhan persistent volume serta Failover PostgreSQL menggunakan PGPool untuk memastikan database yang high availability. Seluruh kebutuhan UangTeman, berhasil diakomodir oleh Biznet Gio dengan baik tanpa ada gangguan signifikan pada sistem yang sedang berjalan. Hasilnya, UangTeman mampu melayani 17.000 pelanggan dari aplikasi baru dengan proses veriifikasi data yang lebih lancar.

Andre menjelaskan bahwa setelah seluruh proses migrasi selesai dilakukan, UangTeman berhasil menghemat biaya infrastruktur hingga 40% dibandingkan dengan sebelumnya. UangTeman juga mampu memenuhi regulasi OJK dan Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) dengan menyediakan report secara real time. Dengan bermigrasi ke layanan microservice memberikan visibilitas alokasi resource yang terpantau dan jadi lebih efisien sehingga biaya infrastruktur dapat dioptimasi.

“Saat ini kita dapat mengembangkan fitur, melakukan proses upgrade juga tinggal klik. Segalanya jadi on the fly, dapat disesuaikan dengan kebutuhan.”

Seluruh penggunaan cloud resource setiap stakeholder dapat dikendalikan dengan baik dan telah menerapkan metode kerja Continuous Integration dan Continuous Deployment (CI/CD). Sehingga, proses development seperti push code ke production dan version update dapat dilakukan secara terstruktur. Selain itu, apabila terjadi kesalahan saat melakukan update, sistem dapat di rollback ke state version sebelumnya tanpa harus mengalami proses downtime.

Untuk memastikan seluruh proses transaksi terjamin keamanannya dan terhindar dari data loss akibat kegagalan sistem, layanan fintech seperti UangTeman membutuhkan Disaster Recovery Center (DRC) yang sesuai dengan regulasi OJK. Bersama Biznet Gio, UangTeman merancang Business Continuity Plan dengan membangun Disaster Recovery Center (DRC) pada 2 Data Center Biznet yang berlokasi di Technovillage dan Midplaza. Tim Customer Care yang cepat dan Infrastruktur yang andal dari Biznet Gio, telah membantu UangTeman dalam membangun bisnisnya. Kini UangTeman dapat fokus untuk mengembangkan layanannya tanpa harus mengkhawatirkan permasalahan infrastruktur.