Logika untuk deploy website itu sederhana, karena kamu cukup memindahkan file website dari komputer ke server internet. Dengan begitu, siapa pun bisa mengaksesnya melalui browser. 

Selama paham dengan alurnya, proses deploy website jauh lebih mudah daripada yang kamu bayangkan. 

Maka dari itu, pahami dulu alur atau urutan dasarnya sebelum lompat ke langkah teknis. 

Ingin tahu langkah-langkah atau alurnya? Cek sini!

Cara Deploy Website dari Nol Sampai Siap Diakses

Sekarang kita masuk ke alurnya. Proses deploy website sebenarnya seperti menyusun rantai kerja. Setiap langkah saling terhubung, sehingga kamu perlu menjalankannya secara berurutan. 

Begitu kamu memahami alur ini, kamu bisa deploy berbagai jenis website tanpa harus bingung setiap kali memulai proyek baru:

1. Siapkan File Website yang Sudah Siap Jalan

Langkah pertama selalu berawal dari file website itu sendiri. Kamu harus memastikan seluruh komponen website sudah siap digunakan. 

Biasanya folder proyek berisi HTML, CSS, JavaScript, gambar, serta file backend jika kamu memakai bahasa pemrograman seperti PHP atau framework tertentu.

Struktur folder juga perlu rapi supaya server mudah membaca file yang kamu unggah nanti. Halaman utama biasanya memakai file index.html atau index.php. Server otomatis mencari file ini ketika seseorang membuka domain website.

Sebelum proses upload, kamu sebaiknya menjalankan website pada localhost terlebih dulu. 

Banyak developer memakai XAMPP, Laragon, atau Docker untuk tahap ini. Testing lokal membantu kamu menemukan error sejak awal. 

Selain itu, kamu juga bisa memperbaiki bug, memeriksa tampilan halaman, lalu memastikan navigasi berjalan normal sebelum website berpindah ke server internet.

2. Tentukan Domain sebagai Alamat Website

Setelah file website siap, kamu perlu menentukan alamat yang akan orang gunakan untuk mengakses website tersebut. Alamat inilah yang kita sebut domain. Contohnya seperti tokokamu.com atau brandmu.id.

Kamu bisa membeli domain lewat registrar seperti Niagahoster, Rumahweb, atau penyedia domain internasional. 

Setelah pembelian selesai, domain belum langsung menampilkan website karena kamu masih perlu menghubungkannya dengan server hosting.

Domain bekerja seperti papan penunjuk arah. Ketika seseorang mengetik alamat website pada browser, sistem DNS akan mencari server tempat file website berada. Tanpa koneksi ini, browser tidak tahu ke mana harus mengambil data website.

Karena itu, pemilihan domain sebaiknya kamu lakukan sejak awal agar proses deploy berjalan lebih mulus.

3. Pilih Hosting yang Sesuai Kebutuhan Website

Hosting berfungsi sebagai tempat penyimpanan file website. Server hosting akan menjalankan kode website dan mengirimkan halaman ke browser pengunjung setiap kali seseorang membuka domain kamu.

Kamu bisa memilih beberapa jenis hosting. Shared hosting biasanya cukup untuk blog atau website kecil. VPS menawarkan kontrol lebih luas bagi developer yang membutuhkan konfigurasi server sendiri. 

Sedangkan Cloud hosting cocok untuk proyek yang membutuhkan performa tinggi serta kemampuan scaling.

Setelah membeli hosting, penyedia layanan biasanya memberikan akses dashboard seperti cPanel atau Plesk. 

Panel ini memudahkan kamu mengelola file, database, domain, dan konfigurasi server tanpa harus menggunakan command line setiap saat.

4. Upload File Website ke Server Hosting

Cara deploy website berikutnya adalah dengan memindahkan file website dari komputer ke server hosting. 

Kamu bisa menggunakan File Manager pada cPanel atau menggunakan FTP client seperti FileZilla.

Sebagian besar server menyediakan folder bernama public_html. Folder inilah yang server baca ketika seseorang mengakses domain kamu. Jadi seluruh file website harus berada dalam folder tersebut.

Kalau file website masih berbentuk arsip ZIP, kamu bisa mengunggah file itu terlebih dulu lalu mengekstraknya langsung melalui panel hosting. Cara ini sering dipakai karena proses upload menjadi jauh lebih cepat.

Setelah upload selesai, kamu juga perlu memastikan semua file berada pada lokasi yang benar. Kesalahan kecil pada struktur folder bisa membuat website gagal muncul.

5. Buat Database dan Hubungkan dengan Website

Website dinamis biasanya membutuhkan database. Sistem seperti WordPress, Laravel, atau CMS lain menggunakan database untuk menyimpan data artikel, akun pengguna, dan berbagai informasi lainnya.

Maka dari itu, langkah deploy website selanjutnya yakni Kkmu perlu membuat database baru melalui panel hosting. 

Setelah itu kamu membuat user database lalu menghubungkannya dengan database tersebut.

Langkah berikutnya mengatur file konfigurasi website. File seperti config.php atau .env biasanya menyimpan informasi koneksi database. Kamu harus memasukkan nama database, username, password, serta alamat server database.

Jika konfigurasi berjalan dengan benar, maka website akan mampu membaca serta menyimpan data secara otomatis.

6. Hubungkan Domain dengan Server Hosting

Sekarang kamu perlu menghubungkan domain dengan server hosting. Proses ini menggunakan pengaturan DNS.

Biasanya penyedia hosting memberikan nameserver khusus. Jadi, kamu tinggal memasukkan nameserver tersebut pada pengaturan domain. Alternatif lain menggunakan A Record yang mengarah ke alamat IP server.

Setelah perubahan DNS selesai, sistem internet membutuhkan waktu propagasi agar perubahan tersebut dikenali secara global. Proses ini bisa berlangsung beberapa menit hingga sekitar satu hari.

Selama masa propagasi, website mungkin belum tampil secara konsisten. Hal ini normal karena server DNS seluruh dunia masih memperbarui data domain kamu.

7. Aktifkan SSL dan Lakukan Pengujian Website

Langkah terakhir memastikan website benar-benar siap untuk pengunjung gunakan. Kamu sebaiknya mengaktifkan sertifikat SSL agar website menggunakan protokol HTTPS.

Sebagian besar penyedia hosting menyediakan SSL gratis melalui Let’s Encrypt. Tapi, apa gunanya aktivasi ini? 

Aktivasi SSL membantu melindungi data pengunjung sekaligus meningkatkan kepercayaan pengguna serta performa SEO.

Setelah itu kamu perlu melakukan pengujian website secara menyeluruh. Buka beberapa halaman utama, periksa menu navigasi, cek formulir kontak, serta pastikan setiap halaman memuat dengan cepat.

Kalau semua fungsi berjalan normal, berarti proses deploy website sudah selesai. Website kamu sekarang bisa diakses siapa saja melalui internet.

Jangan Sampai Salah Pilih Domain dan Hosting untuk Deploy Website!

Setelah kamu memahami proses deploy website dari nol, langkah penting berikutnya terletak pada pemilihan domain dan hosting. Dua komponen ini menentukan apakah website kamu bisa diakses dengan stabil, cepat, dan aman oleh pengunjung.

Kamu bisa mempertimbangkan Web Hosting Murah dari Biznet Gio yang menawarkan server SSD cepat, resource besar, serta uptime tinggi agar website tetap online. 

Bersamaan dengan itu, manfaatkan juga fitur Cek Domain Biznet Gio untuk menemukan dan mengamankan nama domain yang masih tersedia. 

Proses pencariannya cepat, pilihan ekstensi lengkap, dan domain bisa langsung aktif sehingga website kamu siap online tanpa proses rumit.


Butuh hosting yang gak nyusahin? Hemat, unlimited, dan CS responsive 24/7