Saat ini, banyak perusahaan yang menilai DevOps sebagai fondasi dari tim engineering. Jadi, perusahaan butuh orang yang paham proses, paham tooling, serta paham risiko. Karena itu, DevOps certification masih relevan, bahkan makin selektif. Bukan semua sertifikat bernilai sama, dan bukan semua cocok buat semua orang.

Memperoleh sertifikasi DevOps yang tepat, bisa membantumu untuk memperoleh pengakuan dari perusahaan dan bahkan bisa memajukan karir. 

Kalau mau ambil DevOps certification, opsi yang ada di sini bisa kamu pertimbangkan. 

DevOps Certification Terbaik di 2026 untuk IT Profesional

Cek langsung certification course DevOps yang ada di sini: 

1. AWS Certified DevOps Engineer, Professional

DevOps certification ini sering muncul pada lowongan perusahaan teknologi skala besar maupun startup yang sudah matang. 

AWS mendorong praktik DevOps lewat layanan native mereka, lalu sertifikasi ini memvalidasi kemampuan kamu mengelola pipeline CI/CD, observability, deployment automation, serta kontrol keamanan berbasis kebijakan.

AWS tidak menguji hafalan semata. Namun, kamu perlu paham bagaimana sistem bekerja dalam skala nyata, lalu kamu perlu paham konsekuensi tiap keputusan arsitektur. 

Karena itu, sertifikat ini cocok buat kamu yang sudah terbiasa menangani workload AWS, baik lewat EC2, ECS, EKS, maupun layanan managed lain.

Nilai jualnya cukup tinggi karena banyak perusahaan mengandalkan AWS sebagai tulang punggung infrastruktur. 

Selain itu, sertifikat ini sering berkorelasi dengan level gaji yang lebih tinggi, sebab perusahaan menganggap holder-nya siap menangani sistem produksi kompleks. 

Kalau kamu pernah mengelola deployment skala menengah sampai besar, maka DevOps certification ini terasa logis sebagai langkah lanjutan.

2. Microsoft Certified: DevOps Engineer Expert (AZ-400)

Kalau lingkungan kerja kamu dekat dengan Azure, maka sertifikasi AZ-400 terasa sangat relevan. 

Microsoft menempatkan DevOps sebagai jembatan antara pengembangan aplikasi, operasi sistem, serta kolaborasi lintas tim. 

Sertifikasi ini menilai kemampuan kamu merancang workflow DevOps end-to-end lewat Azure DevOps dan GitHub Actions.

Microsoft juga menekankan aspek proses, bukan sekadar tooling. Kamu perlu paham bagaimana tim berkolaborasi, bagaimana pipeline berjalan konsisten, serta bagaimana monitoring dan feedback loop bekerja. 

Jadi, pendekatan ini cocok untuk organisasi besar, terutama enterprise yang mengandalkan struktur kerja rapi.

AZ-400 juga menuntut prasyarat sertifikasi Azure level associate, sehingga jalurnya cukup jelas. 

Kalau kamu ingin berkarier dalam ekosistem Microsoft atau perusahaan hybrid cloud, maka sertifikasi ini memberi validasi kuat atas kemampuan desain sistem DevOps yang aman dan terukur.

3. Certified Kubernetes Administrator (CKA)

CKA sering dapat anggapan sertifikasi DevOps paling teknis. Kubernetes menjadi fondasi arsitektur cloud-native modern, sehingga banyak perusahaan menjadikan CKA sebagai standar kompetensi. 

Sertifikasi ini menggunakan ujian praktik, jadi kamu benar-benar bekerja langsung dengan cluster, bukan menjawab teori.

Lewat CKA, kamu membuktikan kemampuan mengelola node, pod, networking, storage, serta troubleshooting. 

Semua materinya juga berkaitan langsung dengan kondisi produksi, bukan simulasi abstrak. Karena itu, banyak engineer merasa sertifikasi ini berat namun sepadan.

Nilainya terasa kuat karena Kubernetes hadir hampir pada semua stack modern. Kalau kamu ingin fokus pada reliability, scalability, serta sistem terdistribusi, CKA memberi sinyal jelas bahwa kamu siap bekerja pada level tersebut.

4. Docker Certified Associate (DCA)

Docker tetap memegang peran penting sebagai dasar teknologi kontainer. Banyak engineer melompat terlalu cepat ke Kubernetes tanpa memahami lifecycle kontainer secara menyeluruh. DCA membantu kamu memperkuat fondasi tersebut.

Lewat sertifikasi ini, kamu belajar membangun image, mengelola registry, mengatur networking kontainer, serta memahami runtime behavior. 

Materinya juga terasa praktis dan relevan untuk kerja harian, terutama pada tahap awal adopsi DevOps.

DCA cocok untuk kamu yang ingin masuk dunia kontainer secara bertahap. Sertifikasi ini juga sering menjadi jembatan sebelum mengambil CKA, karena pemahaman Docker yang kuat membuat proses belajar Kubernetes jauh lebih ringan.

5. HashiCorp Certified: Terraform Associate

Infrastructure as Code sudah menjadi praktik umum, dan Terraform menempati posisi utama. 

Sertifikasi Terraform Associate memvalidasi kemampuan kamu menulis konfigurasi, mengelola state, serta menerapkan provisioning otomatis lintas cloud.

HashiCorp merancang sertifikasi ini agar accessible, sehingga cocok buat engineer yang baru masuk area IaC. 

Meski levelnya associate, tapi dampaknya cukup besar karena banyak perusahaan mencari engineer yang bisa mengurangi konfigurasi manual.

Terraform juga bersifat vendor-agnostic, sehingga sertifikasi ini melengkapi sertifikat cloud lain. Kamu bisa menggabungkannya dengan AWS, Azure, maupun GCP, lalu membangun profil DevOps yang fleksibel.

6. Google Cloud Professional Cloud Architect

Google Cloud berkembang pesat, terutama pada area data, AI, serta site reliability engineering. 

Sertifikasi DevOps dan Cloud Architect dari Google menekankan desain sistem, reliability, serta observability.

Pendekatan Google terasa unik karena sangat dekat dengan konsep SRE. Jadi, nantinya kamu belajar menyeimbangkan kecepatan rilis dengan stabilitas sistem. Banyak perusahaan berbasis produk digital mulai melirik pendekatan ini.

Kalau kamu menargetkan perusahaan teknologi berbasis data atau tim engineering yang matang secara proses, DevOps certification free GCP membantu memperluas profil kamu sebagai engineer multi-cloud.

VPS Indonesia Gratis Bandwidth untuk Praktik DevOps Serius

Kalau kamu sedang mengejar DevOps certification, maka lingkungan praktik itu krusial. VPS Indonesia gratis bandwidth dari Biznet Gio memberi ruang eksperimen tanpa takut trafik jebol. 

Kamu bisa bangun CI/CD, main Docker dan Kubernetes, lalu uji Terraform atau monitoring stack dengan kondisi mendekati produksi. 

Resource dedicated, akses root penuh, dan jaringan kencang bikin proses belajar terasa relevan. Sertifikat memang penting, tapi skill nyata lahir dari server yang siap untuk kerja keras. 


Cari server murah? Ini solusinyaโ€”VPS hemat + FREE Bandwidth.