Cloud VPS sudah menjadi fondasi utama bagi banyak developer modern. Mulai dari menjalankan website, API, microservices, hingga environment DevOps, kebutuhan akan server yang fleksibel dan scalable semakin meningkat. Di tengah banyaknya pilihan, tiga nama yang paling sering muncul adalah DigitalOcean, Linode, dan Vultr. Ketiganya punya perbedaan mendasar. Jika membandingkan DigitalOcean vs Linode vs Vultr, mana yang terbaik?

Ketiganya populer sebagai penyedia cloud VPS dengan pendekatan developer-friendly. Setup cepat, dokumentasi lengkap, dan model pembayaran berbasis jam menjadi alasan utama popularitas mereka. Namun, memasuki 2026, kebutuhan developer juga ikut berubah. Isu seperti struktur harga dalam USD, lokasi server terdekat ke Indonesia, performa real-world, dan biaya bandwidth menjadi pertimbangan yang semakin krusial.

Artikel ini akan membahas perbandingan DigitalOcean vs Linode vs Vultr secara mendalam, lalu membandingkan ketiganya berdasarkan faktor-faktor teknis dan biaya yang paling relevan bagi developer, khususnya yang memiliki pengguna atau market di Asia Tenggara dan Indonesia.

Apa Itu DigitalOcean?

DigitalOcean adalah salah satu cloud provider paling populer di kalangan developer startup dan indie developer. Platform ini terkenal karena kesederhanaannya. Konsep “Droplet” yang platform satu ini tawarkan membuat proses deploy VPS menjadi sangat cepat tanpa konfigurasi rumit.

DigitalOcean menyediakan berbagai layanan pendukung seperti managed database, Kubernetes, object storage, dan load balancer. Ekosistem ini membuatnya cocok untuk pengembangan aplikasi skala kecil hingga menengah. Dokumentasi DigitalOcean juga sering dapat anggapan sebagai salah satu yang terbaik di industri cloud, sehingga ramah untuk developer pemula maupun berpengalaman.

Namun, DigitalOcean menggunakan struktur harga dalam USD dan menerapkan batasan bandwidth pada setiap Droplet. Ketika penggunaan bandwidth melebihi kuota, biaya tambahan bisa menjadi cukup signifikan. Selain itu, lokasi server DigitalOcean di Asia masih terbatas, sehingga latency ke Indonesia tidak selalu optimal.

Apa Itu Linode?

Linode, yang kini berada di bawah naungan Akamai, populer sebagai cloud VPS yang menonjolkan stabilitas dan performa konsisten. Linode sering jadi pilihan oleh developer yang menginginkan keseimbangan antara harga dan resource yang lebih jelas.

Dari sisi layanan, Linode menawarkan compute instance, block storage, managed Kubernetes, dan layanan jaringan yang cukup lengkap. Panel kontrolnya relatif bersih dan fungsional, meskipun tidak se-sederhana DigitalOcean bagi pemula.

Keunggulan Linode terletak pada alokasi resource yang lebih transparan dan performa yang stabil untuk workload jangka panjang. Namun, sama seperti DigitalOcean, Linode menggunakan mata uang USD dan memiliki batas bandwidth yang perlu diperhatikan. Lokasi server di Asia Tenggara juga masih terbatas dan belum berada langsung di Indonesia.

Apa Itu Vultr?

Vultr adalah cloud provider yang cukup agresif dalam memperluas lokasi data center. Dibanding DigitalOcean dan Linode, Vultr memiliki lebih banyak pilihan lokasi server di kawasan Asia, termasuk Singapura dan Jepang.

Vultr menawarkan berbagai tipe instance, mulai dari regular cloud compute hingga high performance dengan NVMe SSD. Fleksibilitas ini membuat Vultr menarik bagi developer yang membutuhkan performa storage tinggi dengan harga yang masih relatif kompetitif.

Namun, Vultr juga menerapkan sistem harga berbasis USD dan pembatasan bandwidth. Untuk aplikasi dengan trafik tinggi, biaya tambahan bandwidth bisa menjadi tantangan tersendiri. Selain itu, dokumentasi Vultr tidak sedetail DigitalOcean, sehingga membutuhkan pengalaman teknis yang lebih matang.

Ini baru DigitalOcean vs Linode vs Vultr dari segi definisi. Ingin tahu lengkapnya? Lanjut baca!

Perbandingan Fitur: DigitalOcean vs Linode vs Vultr

Untuk menilai mana cloud VPS terbaik di 2026, perbandingan berikut difokuskan pada tiga aspek utama: struktur harga USD, lokasi server terdekat ke Indonesia, dan performa.

1. Struktur Harga dalam USD

DigitalOcean menggunakan model harga flat per bulan atau per jam dalam USD. Harga awal terlihat sederhana, tetapi biaya tambahan seperti bandwidth overage dan layanan pendukung dapat meningkatkan total biaya secara signifikan. Linode juga menggunakan model serupa, namun dengan struktur resource yang sedikit lebih besar di beberapa paket, sehingga terasa lebih “value” untuk workload tertentu.

Vultr menawarkan variasi paket yang lebih fleksibel, termasuk instance dengan NVMe SSD. Namun, semakin tinggi performa yang dipilih, semakin cepat biaya meningkat. 

Ketiganya memiliki tantangan yang sama untuk pengguna Indonesia, yaitu fluktuasi kurs USD yang membuat biaya jangka panjang kurang stabil.

2. Lokasi Server Terdekat ke Indonesia

DigitalOcean memiliki data center di Singapura, tetapi opsi Asia lainnya masih terbatas. Latency ke Indonesia cukup baik, tetapi tetap tidak seoptimal server yang berada di dalam negeri. Linode memiliki data center di Singapura dan beberapa wilayah Asia lainnya, namun jumlahnya masih relatif sedikit.

Vultr unggul dalam aspek ini karena menyediakan lebih banyak pilihan lokasi di Asia Pasifik. Meskipun belum memiliki server di Indonesia, jarak yang lebih dekat memberikan latency yang relatif lebih rendah dibanding dua kompetitornya.

3. Performa CPU, RAM, dan Storage

DigitalOcean menawarkan performa yang konsisten untuk aplikasi umum, tetapi kurang fleksibel untuk workload berat tanpa upgrade ke paket lebih mahal. Linode dikenal stabil untuk long-running services dan aplikasi backend yang membutuhkan uptime tinggi.

Vultr, khususnya pada paket high performance, unggul di sisi storage NVMe dengan kecepatan I/O yang lebih tinggi. Namun, performa ini datang dengan konsekuensi biaya yang juga lebih tinggi, terutama jika bandwidth usage besar.

4. Bandwidth dan Biaya Tambahan

Ketiga provider menerapkan kuota bandwidth bulanan. Ketika batas terlampaui, biaya tambahan akan dikenakan. Untuk aplikasi dengan trafik tinggi atau file transfer besar, hal ini bisa menjadi bottleneck biaya yang sering tidak disadari di awal.

5. Kemudahan Scaling dan Manajemen

DigitalOcean unggul dalam kemudahan scaling dan manajemen melalui UI yang sederhana. Linode menawarkan kontrol yang lebih teknis dan granular. Vultr memberikan fleksibilitas tinggi, tetapi membutuhkan pemahaman teknis yang lebih baik untuk optimasi maksimal.

Tabel Perbandingan Spesifikasi dan Biaya Bandwidth

AspekDigitalOceanLinodeVultr
Mata UangUSDUSDUSD
Tipe VPSCloud DropletCompute InstanceCloud Compute
StorageSSDSSDSSD / NVMe
Bandwidth BulananTerbatasTerbatasTerbatas
Biaya OverageAdaAdaAda
Lokasi Asia TerdekatSingapuraSingapuraSingapura, Jepang
Latency ke IndonesiaMenengahMenengahRelatif lebih rendah
Target PenggunaStartup, dev pemulaBackend & sysadminDev performa tinggi

Menentukan Infrastruktur yang Paling Relevan di 2026

DigitalOcean, Linode, dan Vultr tetap menjadi pilihan cloud VPS yang kuat untuk developer, terutama bagi proyek yang membutuhkan fleksibilitas global, ekosistem cloud lengkap, dan kontrol penuh atas environment. Ketiganya cocok untuk eksperimen, pengembangan aplikasi lintas negara, maupun deployment yang tidak terlalu sensitif terhadap latency.

Namun, untuk proyek yang menargetkan pengguna Indonesia atau Asia Tenggara, ada beberapa kompromi yang sulit dihindari. Struktur harga berbasis USD membuat biaya jangka panjang kurang stabil, pembatasan bandwidth berpotensi menambah cost tersembunyi, dan lokasi server di luar negeri tetap membawa latency yang mempengaruhi pengalaman pengguna secara langsung.

Sebagai alternatif dari DigitalOcean, Linode, dan Vultr, VPS NVMe dengan server lokal lebih relevan untuk developer yang menargetkan pengguna Indonesia di 2026. 

Solusi ini mengurangi latency akibat jarak geografis, menghindari ketergantungan pada harga berbasis USD, serta memberikan kontrol biaya yang lebih stabil untuk penggunaan jangka panjang. Dengan fokus pada performa storage dan alokasi resource yang jelas, VPS NVMe cocok untuk website, API, dan aplikasi yang membutuhkan kecepatan serta konsistensi.

Dengan keunggulan sebagai berikut:

  • NVMe Enterprise: Kecepatan baca–tulis lebih tinggi dibanding SSD standar.
  • IOPS Tinggi & Stabil: Performa tetap konsisten untuk database dan workload berat.
  • Latency Rendah: Akses lebih cepat bagi pengguna Indonesia.
  • Resource Dedicated: vCPU, RAM, dan storage tidak dibagi dengan tenant lain.
  • Bandwidth Lebih Aman: Tanpa biaya overage tersembunyi.
  • Biaya Lebih Terkontrol: Tidak terdampak fluktuasi kurs USD.
  • Skalabilitas Mudah: Resource dapat ditingkatkan sesuai kebutuhan aplikasi.


Cari server murah? Ini solusinya—VPS hemat + FREE Bandwidth.