Internet cukup kejam, pemilik infrastruktur teknologi memang perlu berhati-hati terutama atas serangan DDoS yang makin canggih. 

Para penjahat siber kini mampu menggerakkan jutaan botnet untuk membanjiri server dengan trafik palsu hingga sistem mengalami kelumpuhan total. 

Dampaknya tak cuma gangguan teknis, melainkan potensi kerugian finansial yang membengkak serta rusaknya reputasi bisnis di mata pelanggan.

Memahami pola kerja ancaman ini menjadi langkah krusial bagi kamu yang mengelola layanan berbasis internet.

Apa Itu Serangan DDoS?

DDoS merupakan singkatan dari Distributed Denial of Service. Penjahat siber melancarkan serangan ini untuk melumpuhkan target melalui banjir trafik palsu. 

Jadi, kamu bisa mengilustrasikannya sebagai ribuan perangkat yang terinfeksi malware mengirim data secara bersamaan ke satu server. 

Server yang kewalahan akhirnya tumbang karena tidak sanggup memproses permintaan yang meledak seketika.

Berbeda dengan serangan DoS biasa, DDoS melibatkan banyak sumber sekaligus. Kumpulan perangkat yang terinfeksi ini kita kenal sebagai botnet. 

Penyerang mengendalikan botnet dari jarak jauh untuk menyerang satu target secara serentak. Akibatnya, pengguna sah tidak bisa mengakses layanan karena sistem sedang sibuk melayani sampah digital tersebut.

3 Jenis Serangan DDoS yang Utama

Memahami jenis serangan membantu kita merancang pertahanan yang lebih kuat. Para ahli membagi DDoS berdasarkan lapisan model OSI yang mereka sasar:

1. Volumetric Attacks

Tujuan utama serangan ini adalah menghabiskan seluruh lebar pita (bandwidth) jaringan. 

Penyerang mengirimkan data dalam jumlah raksasa agar jalur koneksi penuh sesak. Contoh populernya adalah UDP Flood. 

Penyerang mengirim paket UDP ke port acak pada server target secara masif. Selain itu, ada pula ICMP Flood yang membanjiri jaringan dengan pesan ping terus-menerus. 

Akibatnya, server kehabisan kapasitas untuk menerima trafik normal dari pengguna asli.

2. Protocol Attacks

Jenis ini mengeksploitasi kelemahan dalam protokol komunikasi internet. Fokusnya bukan lagi bandwidth, melainkan sumber daya perangkat keras seperti CPU dan RAM. 

SYN Flood adalah contoh paling mematikan. Penyerang memanfaatkan proses handshake pada koneksi TCP. 

Mereka mengirim permintaan koneksi, namun sengaja tidak pernah menyelesaikannya. Server tetap menunggu respons tersebut hingga memori penuh dan akhirnya berhenti bekerja.

3. Application Layer Attacks

Ini adalah jenis serangan yang paling licin dan sulit terdeteksi. Polanya menyerupai perilaku manusia biasa namun dalam frekuensi yang sangat tidak wajar. 

HTTP Flood sering kali menjadi andalan penyerang di sini. Mereka membanjiri server dengan permintaan GET atau POST yang sangat berat. 

Misalnya, memicu fungsi pencarian yang rumit secara berulang-ulang di situs web. Database server akan bekerja ekstra keras hingga akhirnya mengalami kegagalan sistem secara total.

Contoh Serangan DDoS yang Pernah Terjadi

Mempelajari sejarah serangan besar memberi kamu gambaran tentang betapa berbahayanya ancaman ini.

1. Google (2017)

Peristiwa ini mencatat sejarah sebagai serangan terbesar dengan trafik mencapai 2.5 Tbps. 

Penyerang membidik infrastruktur Google selama enam bulan penuh secara berkala. Meskipun Google memiliki sistem mitigasi yang luar biasa, skala serangan ini tetap mencengangkan para pakar siber dunia.

2. GitHub (2018)

Platform para pengembang ini pernah mengalami serangan sekuat 1.35 Tbps. Penyerang menggunakan teknik Memcached amplification. 

Teknik tersebut mampu melipatgandakan trafik hingga ribuan kali lipat tanpa memerlukan botnet yang sangat besar. GitHub hanya sempat lumpuh selama beberapa menit sebelum sistem mereka kembali pulih.

3. Cloudflare (2022/2023)

Cloudflare sering melaporkan serangan tingkat aplikasi yang sangat intens. Mereka pernah menahan serangan HTTP/2 yang mencapai puluhan juta permintaan per detik. 

Fakta ini membuktikan bahwa penyerang semakin cerdik dalam mengincar titik lemah pada lapisan aplikasi yang paling dalam.

4 Cara Mengatasi Serangan DDoS

Ketika serangan DDoS berlangsung, kamu harus bertindak cepat agar layanan tetap berjalan stabil, caranya: 

1. Traffic Scrubbing

Kamu bisa mengarahkan seluruh trafik masuk ke pusat penyaringan khusus. Pusat ini akan memilah mana paket data yang berbahaya dan mana yang sah. Hanya trafik bersih yang boleh meneruskan perjalanan menuju server utama Anda.

2. Rate Limiting

Terapkan batasan jumlah permintaan yang bisa server terima dari satu alamat IP. Jika sebuah IP mengirim permintaan secara tidak wajar, maka sistem akan memblokirnya secara otomatis dalam durasi tertentu.

3. Sinkholing

Strategi mengatasi serangan DDoS ini dengan mengalihkan seluruh trafik menuju alamat IP target ke “jalur buntu”. Langkah ini sangat efektif untuk melindungi jaringan yang lebih luas. 

Namun, konsekuensinya adalah target utama tetap tidak bisa orang akses untuk sementara waktu.

4. IP Filtering

Lakukan pemblokiran manual atau otomatis terhadap daftar alamat IP yang mencurigakan. 

Biasanya, alamat-alamat ini berasal dari pusat data asing atau wilayah geografis yang tidak memiliki basis pengguna Anda.

5 Cara Mencegah Serangan DDoS

Daripada harus memulihkan atau mengatasi sistem yang sudah hancur karena serangan DDoS, cara ini tentu lebih terjangkau: 

1. Gunakan CDN 

Layanan seperti Cloudflare menyebarkan beban trafik ke berbagai server global. Serangan tidak akan langsung menghantam server asli Anda, melainkan tertahan pada lapisan pertahanan terluar mereka.

2. Monitor Trafik Real-Time

Gunakan alat pemantauan jaringan untuk melihat anomali sejak dini. Deteksi awal memungkinkan Anda mengambil tindakan sebelum serangan mencapai puncaknya dan melumpuhkan sistem.

3. Perkuat Infrastruktur

Pastikan server memiliki kapasitas bandwidth cadangan yang mumpuni. Gunakan juga Load Balancer agar beban trafik tidak hanya menumpuk pada satu titik server saja.

4. Konfigurasi WAF 

Web Application Firewall mampu menyaring trafik di Layer 7 dengan sangat detail. WAF sanggup membedakan pola akses manusia asli dengan bot otomatis yang berniat jahat.

5. Pilih VPS Anti-DDoS 

Saat menyewa layanan, pilihlah penyedia yang menawarkan proteksi DDoS bawaan. Fitur ini bekerja langsung pada tingkat data center untuk memitigasi serangan sebelum mencapai mesin virtual Anda.

Lindungi Infrastruktur Digital Kamu dengan Keamanan Berstandar Enterprise

Menghadapi serangan DDoS yang semakin agresif membutuhkan pondasi infrastruktur yang punya ketahanan tinggi. 

Risiko kelumpuhan sistem bisa kamu minimalisir dengan memilih layanan VPS yang menempatkan aspek keamanan sebagai prioritas utama. 

Biznet Gio menyediakan solusi VPS dengan Keamanan Enterprise yang mencakup proteksi berlapis melalui fitur Firewall dan Security Group untuk mengatur akses port secara ketat.

Selain itu, setiap layanan VPS Server dari Biznet Gio sudah memiliki proteksi anti-DDoS bawaan serta fitur isolasi server untuk menjamin integritas data kamu. 

Infrastruktur ini berjalan pada jaringan berkapasitas 100 G dengan dukungan penyimpanan SSD NVMe yang 40x lebih cepat. 

Keamanan yang tangguh serta performa yang andal memastikan bisnis tetap operasional tanpa takut ancaman siber yang merugikan. Lindungi proyek kamu sekarang juga dengan standar keamanan terbaik dari Biznet Gio!


Capek server lelet terus? Upgrade ke VPS 40x lebih cepat dan IOPS 80.000