Jangan anggap dengan migrasi ke cloud bisa jadi hemat, karena tagihannya bisa meningkat cepat saat penggunaan resource tidak terkontrol. Maka dari itu, penting memahami cloud cost optimization untuk memaksimalkan manfaat cloud tanpa harus menguras anggaran operasional. 

Memang, fleksibilitas cloud sulit untuk ditandingi infrastruktur konvensional. Hanya saja, kamu masih perlu cermat dalam mengatur biaya yang nanti dikeluarkan. 

Apa Itu Cloud Cost Optimization

Cloud Cost Optimization adalah proses mengelola penggunaan layanan cloud agar biaya tetap efisien tanpa mengorbankan performa, keamanan, maupun ketersediaan sistem. 

Tujuannya bukan sekadar memangkas tagihan bulanan, melainkan memastikan setiap resource yang digunakan benar-benar memberikan nilai bagi bisnis.

Praktik ini mencakup banyak aktivitas, seperti: 

  • Memantau penggunaan resource.
  • Menghapus layanan yang tidak diperlukan.
  • Memilih model pembayaran yang tepat.
  • Membangun budaya pengelolaan biaya yang melibatkan seluruh tim.ย 

Dengan pendekatan yang tepat, perusahaan dapat memperoleh performa yang sama dengan pengeluaran yang jauh lebih rendah.

Kenapa Cloud Cost Optimization Penting untuk Bisnismu? 

Model cloud berbasis pay-as-you-go memang fleksibel. Namun, fleksibilitas tersebut sering membuat perusahaan kehilangan kendali terhadap pengeluaran. 

Resource dapat bertambah dengan cepat, sementara proses evaluasi biaya sering tertinggal.

Akibatnya, banyak organisasi membayar kapasitas yang sebenarnya tidak mereka butuhkan. 

Kondisi ini umum terjadi pada perusahaan yang sedang bertumbuh karena fokus utama mereka biasanya tertuju pada pengembangan produk dan operasional bisnis.

Cloud cost optimization membantu perusahaan memahami ke mana anggaran cloud mengalir. 

Selain itu, strategi ini juga memudahkan proses perencanaan keuangan, meningkatkan efisiensi operasional, serta membuka ruang investasi yang lebih besar untuk pengembangan bisnis. 

Strategi dan Best Practice Cloud Cost Optimization

Ingin tahu seperti apa cloud cost optimization strategies yang tepat untuk perusahaanmu? Pertimbangkan ini: 

1. Lakukan Rightsizing pada Resource Cloud

Rightsizing merupakan langkah paling dasar sekaligus paling berdampak dalam cloud cost optimization. 

Banyak tim IT memilih spesifikasi server yang jauh lebih besar dari kebutuhan aktual karena ingin menghindari risiko performa. Masalahnya, kapasitas berlebih hampir selalu berujung pada pemborosan.

Coba lihat penggunaan CPU, RAM, storage, dan bandwidth selama beberapa minggu. Jika sebuah instance hanya memakai sebagian kecil kapasitasnya, kamu bisa menurunkan spesifikasinya tanpa memengaruhi performa aplikasi. 

Penghematan dari satu server mungkin terlihat kecil. Namun, saat organisasi mengelola puluhan bahkan ratusan instance, dampaknya bisa sangat signifikan.

2. Hapus atau Matikan Resource yang Menganggur

Salah satu penyebab tagihan cloud membengkak berasal dari resource yang terlupakan. 

Tim developer sering membuat server untuk testing, lalu meninggalkannya setelah proyek selesai. 

Tim lain juga mungkin menyimpan snapshot lama, volume storage kosong, atau database cadangan yang sebenarnya sudah tidak diperlukan.

Masalah seperti ini sering muncul karena cloud sangat mudah digunakan. Membuat resource hanya butuh beberapa klik. Namun, biaya akan terus berjalan selama resource tersebut masih aktif.

Karena itu, lakukan audit infrastruktur secara berkala sebagai salah satu cloud cost optimization. 

Buat daftar seluruh resource yang aktif, lalu identifikasi mana yang benar-benar mendukung operasional bisnis. Setelah itu, hapus atau matikan resource yang tidak memberikan nilai.

3. Manfaatkan Reserved Instance atau Savings Plan

Tidak semua workload memiliki pola penggunaan yang berubah-ubah. Banyak aplikasi bisnis berjalan stabil sepanjang tahun. 

Database produksi, sistem ERP, atau aplikasi internal perusahaan biasanya memiliki kebutuhan resource yang relatif konsisten.

Jika workload seperti ini masih menggunakan skema on-demand, biasanya perusahaan sering membayar lebih mahal dari yang seharusnya. 

Karena itu, penyedia cloud menawarkan program seperti Reserved Instance, Savings Plan, atau Committed Use Discount.

Melalui program tersebut, kamu berkomitmen menggunakan resource dalam jangka tertentu. Sebagai gantinya, penyedia cloud memberikan potongan harga yang cukup besar. Dalam beberapa kasus, penghematan bisa mencapai puluhan persen dibanding model pembayaran biasa.

Namun, jangan terburu-buru membeli komitmen jangka panjang. Pastikan kebutuhan resource sudah akurat terlebih dahulu. 

Jika kapasitas awal terlalu besar, kamu hanya mengunci pemborosan dalam periode yang lebih lama.

4. Terapkan Autoscaling Secara Cerdas

Beban kerja aplikasi hampir selalu berubah. Trafik bisa melonjak saat promosi berlangsung. 

Sebaliknya, penggunaan bisa turun drastis pada jam-jam tertentu. Jika kamu menyiapkan kapasitas maksimum sepanjang waktu, banyak resource akan menganggur.

Autoscaling membantu mengatasi masalah tersebut. Sistem akan menambah kapasitas saat trafik meningkat, lalu mengurangi kapasitas saat kebutuhan menurun. Dengan cara ini, resource selalu menyesuaikan kondisi aktual.

5. Optimalkan Penggunaan Storage

Banyak perusahaan fokus pada biaya komputasi, lalu melupakan storage. Padahal, volume data terus bertambah setiap hari. 

Jika tidak dikelola dengan baik, biaya penyimpanan bisa tumbuh diam-diam hingga menjadi salah satu komponen terbesar dalam tagihan cloud.

Mulailah dengan mengelompokkan data berdasarkan frekuensi akses. Data operasional harian tentu membutuhkan storage berperforma tinggi. Sebaliknya, arsip lama, backup historis, atau log lama tidak memerlukan media penyimpanan mahal.

Sebagian besar penyedia cloud menyediakan beberapa kelas storage dengan harga berbeda. Karena itu, manfaatkan tiering untuk menempatkan data sesuai kebutuhan aktual. Selain lebih efisien, strategi ini juga membantu menjaga performa sistem utama.

Tambahkan juga lifecycle policy agar sistem dapat memindahkan atau menghapus data secara otomatis setelah periode tertentu. 

6. Bangun Sistem Tagging dan Monitoring yang Konsisten

Sulit mengendalikan biaya jika kamu tidak tahu sumber pengeluarannya. Masalah ini sering muncul pada organisasi yang memiliki banyak proyek dan banyak tim. Resource terus bertambah, sementara visibilitas semakin berkurang.

Karena itu, setiap resource perlu memiliki tag yang jelas sebagai langkah cloud cost optimization. Misalnya berdasarkan departemen, proyek, lingkungan kerja, atau pemilik resource. 

Informasi tersebut memudahkan proses pelacakan biaya dan membantu tim memahami dampak keputusan teknis terhadap anggaran.

7. Terapkan Budaya FinOps dalam Organisasi

Banyak perusahaan menganggap cloud cost optimization sebagai tanggung jawab tim infrastruktur. 

Padahal, keputusan yang memengaruhi biaya sering berasal dari berbagai tim. Developer, engineer, product manager, hingga tim bisnis memiliki kontribusi terhadap penggunaan resource cloud.

Karena itu, pendekatan FinOps semakin populer. FinOps mendorong kolaborasi antara tim teknologi, operasional, dan keuangan agar seluruh pihak memiliki visibilitas terhadap biaya cloud.

Setiap tim dapat melihat pengeluaran yang mereka hasilkan, memahami dampaknya terhadap anggaran, lalu mengambil keputusan yang lebih efisien. Hasilnya, optimasi biaya menjadi bagian dari budaya kerja sehari-hari.

Cloud Lebih Hemat Dimulai dari Pemilihan Infrastruktur yang Tepat

Banyak perusahaan fokus memangkas biaya melalui monitoring dan optimasi resource. Padahal, penghematan juga bisa datang dari pemilihan layanan cloud yang menawarkan rasio harga dan performa yang lebih efisien sejak awal.

Untuk kebutuhan website, aplikasi bisnis, SaaS, hingga project development, VPS NVME dari Biznet Gio Cloud dapat menjadi pilihan menarik. 

Dengan harga mulai Rp129.000 per bulan, kamu sudah mendapatkan VPS berbasis SSD NVMe Enterprise, vCPU dan RAM dedicated, IOPS tinggi hingga 80.000, serta perlindungan keamanan tingkat enterprise. 

Sementara itu, jika kebutuhan komputasi sudah berkembang ke skala enterprise, Biznet Gio punya Bare Metal Server

Server siap kamu gunakan dalam sekitar lima menit dengan akses penuh ke console fisik, pilihan Linux maupun Windows, serta dukungan virtualisasi sesuai kebutuhan. Tersedia pula opsi GPU NVIDIA untuk workload AI dan machine learning.

Untuk mendukung efisiensi operasional, Bare Metal Biznet Gio juga memiliki fasilitas Inter-DC Link gratis untuk kebutuhan disaster recovery lintas region, arsitektur jaringan enterprise berbasis spine-leaf, perlindungan DDoS, serta redundansi pada berbagai layer jaringan. 

Kemudian, dengan IP Private dan bandwidth tanpa kuota, kamu juga bisa mengembangkan infrastruktur secara fleksibel tanpa terbebani biaya tambahan yang tidak perlu.


Cari server murah? Ini solusinyaโ€”VPS hemat + FREE Bandwidth.