Cloud migration tools membantu tim IT memindahkan aplikasi, database, virtual machine, hingga workload dari data center menuju cloud. 

Proses tersebut sering melibatkan banyak komponen, sehingga kamu membutuhkan tool yang mampu mempercepat migrasi sekaligus menjaga layanan tetap stabil selama perpindahan berlangsung.

Setiap cloud provider menawarkan solusi migrasi sendiri. Selain itu, banyak vendor independen juga menyediakan platform untuk assessment, monitoring, otomatisasi, hingga pengelolaan infrastruktur setelah migrasi selesai. 

Cloud Migration Tools yang Wajib Diketahui oleh DevOps Engineer

Berikut beberapa cloud migration tools yang paling sering dimanfaatkan oleh DevOps Engineer:

1. AWS Application Migration Service

AWS Application Migration Service (AWS MGN) merupakan layanan migrasi resmi dari Amazon Web Services. 

Tool ini membantu kamu memindahkan server fisik maupun virtual menuju AWS tanpa perlu mengubah arsitektur aplikasi secara menyeluruh. 

AWS MGN menggunakan continuous block-level replication sehingga perubahan data terus tersalin sampai proses cutover selesai. 

Jadi, waktu henti aplikasi tetap rendah dan proses perpindahan berlangsung lebih aman.

Fitur utamanya meliputi:

  • Mendukung migrasi server Windows dan Linux.
  • Continuous replication untuk sinkronisasi data.
  • Test migration sebelum cutover.
  • Cocok untuk strategi lift-and-shift.

2. Azure Migrate

Azure Migrate menjadi platform migrasi resmi milik Microsoft Azure. Tool ini membantu proses discovery, assessment, hingga migrasi berbagai workload menuju Azure. 

Selain memindahkan server, Azure Migrate juga menganalisis kesiapan infrastruktur serta memberikan estimasi biaya cloud. 

Dengan begitu, kamu dapat menyusun strategi migrasi yang lebih matang sebelum proses perpindahan benar-benar berjalan.

Keunggulannya antara lain:

  • Assessment server dan database.
  • Estimasi biaya penggunaan Azure.
  • Dependency mapping antaraplikasi.
  • Integrasi dengan layanan Azure.

3. Google Cloud Migration Tools

Google Cloud menyediakan beberapa layanan migrasi sesuai jenis workload yang ingin kamu pindahkan. 

Misalnya, ada Migrate to Virtual Machines, Database Migration Service, dan Storage Transfer Service. 

Pendekatan tersebut memberi fleksibilitas lebih tinggi karena setiap tool memang dirancang untuk kebutuhan tertentu. Selain itu, Google Cloud juga mendukung lingkungan hybrid dan multi-cloud.

Kemampuannya meliputi:

  • Migrasi virtual machine.
  • Database migration.
  • Storage transfer.
  • Dukungan hybrid dan multi-cloud.

4. CloudEndure Migration

CloudEndure Migration sempat menjadi salah satu tool migrasi server paling populer sebelum teknologinya bergabung ke AWS Application Migration Service. 

Tool ini melakukan continuous replication sehingga setiap perubahan data langsung tersalin menuju server tujuan. 

Karena proses sinkronisasi berlangsung terus-menerus, cutover dapat berjalan lebih cepat dan downtime tetap rendah.

CloudEndure cocok digunakan untuk:

  • Lift-and-shift migration.
  • Disaster recovery.
  • Replikasi server lintas platform.
  • Migrasi aplikasi enterprise.

5. IBM Turbonomic

IBM Turbonomic bukan tool migrasi secara langsung. Platform ini membantu kamu mengoptimalkan resource sebelum maupun setelah migrasi cloud selesai. 

Turbonomic menganalisis performa aplikasi, lalu memberikan rekomendasi kapasitas CPU, RAM, storage, hingga virtual machine.

Hasilnya, perusahaan dapat menghindari overprovisioning sekaligus menghemat biaya operasional cloud.

Kemampuan utamanya meliputi:

  • Analisis performa workload.
  • Optimasi penggunaan resource.
  • Rekomendasi sizing virtual machine.
  • Pengendalian biaya cloud.

6. Datadog

Datadog merupakan platform observability yang sering menemani proses cloud migration. 

Setelah workload berpindah ke cloud, kamu tetap perlu memantau performa aplikasi secara real time. 

Datadog membantu tim DevOps menemukan bottleneck, lonjakan resource, maupun error sebelum berdampak pada pengguna. Karena itu, tool ini sering masuk ke pipeline migrasi modern.

Fitur yang banyak dimanfaatkan meliputi:

  • Infrastructure monitoring.
  • Application Performance Monitoring (APM).
  • Log management.
  • Dashboard dan alert otomatis.

7. VMware HCX

VMware HCX membantu organisasi memindahkan workload berbasis VMware menuju private cloud, public cloud, maupun hybrid cloud. 

Tool ini mendukung live migration sehingga virtual machine dapat berpindah tanpa menghentikan layanan. 

Fitur tersebut sangat berguna bagi perusahaan yang harus menjaga aplikasi tetap aktif selama proses migrasi berlangsung.

Beberapa keunggulannya yaitu:

  • Live migration.
  • Bulk migration.
  • Network extension.
  • Hybrid cloud connectivity.

8. CloudBolt

CloudBolt merupakan platform hybrid cloud management yang membantu otomatisasi deployment dan pengelolaan berbagai cloud provider. 

Setelah proses migrasi selesai, kamu dapat memakai CloudBolt untuk mengatur provisioning, workflow, hingga kebijakan penggunaan resource melalui satu dashboard. 

Pendekatan tersebut membuat pengelolaan infrastruktur terasa lebih sederhana.

Beberapa fungsi pentingnya meliputi:

  • Self-service provisioning.
  • Hybrid cloud management.
  • Workflow automation.
  • Integrasi dengan DevOps pipeline.

9. OpenText Migrate

OpenText Migrate membantu perusahaan memindahkan server fisik, virtual machine, maupun workload cloud dengan gangguan operasional yang minim. 

Tool ini mendukung berbagai platform sehingga cocok untuk organisasi yang masih menjalankan lingkungan IT campuran. 

Selain itu, proses otomatisasi migrasi juga membantu mengurangi kesalahan konfigurasi.

Tool ini menyediakan berbagai fitur seperti:

  • Automated workload migration.
  • Server replication.
  • Cross-platform migration.
  • Minimal downtime.

10. Terraform

Terraform merupakan tool Infrastructure as Code (IaC) dari HashiCorp yang sering mendukung proyek cloud migration. 

Meskipun Terraform tidak memindahkan server secara langsung, tool ini membantu kamu membangun ulang infrastruktur cloud menggunakan kode. 

Pendekatan tersebut membuat deployment lebih konsisten, mudah diotomasi, dan lebih cepat saat lingkungan baru perlu dibuat kembali.

Keunggulan Terraform meliputi:

  • Mendukung AWS, Azure, GCP, dan provider lain.
  • Infrastruktur dapat dikelola dalam bentuk kode.
  • Mendukung version control.
  • Sangat cocok untuk lingkungan multi-cloud.

Migrasi Cloud Makin Lancar dengan VPS Andal!

Setelah memilih cloud migration tools yang tepat, kamu juga perlu menyiapkan lingkungan server yang mampu mengikuti kebutuhan aplikasi sejak tahap migrasi hingga operasional harian.

Kalau kamu mencari VPS dengan performa tinggi, VPS Extra Cepat dari Biznet Gio bisa menjadi pilihan. 

Layanan ini memakai prosesor AMD EPYC generasi terbaru, SSD NVMe enterprise dengan performa hingga 40.000 IOPS dan burst hingga 80.000 IOPS, serta alokasi vCPU dan RAM dedicated agar performa tetap konsisten. 

Penyimpanan memakai replikasi tiga salinan, lengkap dengan Firewall, Security Group, dan DDoS Protection. 

Sementara itu, VPS Server Biznet Gio menawarkan pilihan Linux maupun Windows, bandwidth gratis, uptime 99,9%, upgrade resource yang fleksibel, serta paket mulai Rp59.000 per bulan, sehingga kamu lebih leluasa menyesuaikan kapasitas server seiring perkembangan aplikasi dan kebutuhan bisnis.


Capek server lelet terus? Upgrade ke VPS 40x lebih cepat dan IOPS 40.000